Puisi

3.8.19

Politik Itu Bekerja di Malam Hari


GOENAWAN Mohamad, penulis dan mantan Pimpred Majalah Tempo pernah menulis dalam salah satu kolom ‘Catatan Pinggir’-nya bahwa politik dalam arti sesungguhnya itu senantiasa bekerja ‘di malam hari’ dan saya menyetujuinya. 

Bagi esais besar Indonesia ini, ‘Bekerja di malam hari’, merupakan metafora untuk menggambarkan bila cara kerja politik itu senantiasa berada di balik layar, dalam remang-remang dan bisik-bisik yang menyerupai percakapan bisnis dengan segala karakter kompromistik, siapa mendapat apa dan penuh dengan ruang kemungkinan transaksional. 

Bila pagi hari datang, kerja politik akan menyulap dirinya menjadi ‘panggung teater’. Sebuah tampilan drama yang dibangun penuh kesadaran untuk menciptakan kesan dan persepsi publik. Di waktu dan zona ini, mengutip penulis besar Prancis Albert Camus, politik adalah ornamen kamuflase yang disepakati serta dibenarkan sebagai konsensus bersama. 

Apakah cara kerja semacam itu merupakan sebentuk kebohongan? Camus menjawabnya tidak, karena memang karakter yang terbawa dalam politik adalah persepsi. “Politik itu tentang persepsi”. Bagaimanapun persepsi  adalah ‘anak kandung’ demokrasi di mana dia lahir sebagai bentuk langsung cara politik bekerja dalam mempengaruhi massa. Dengan kata lain, demokrasi dibangun dengan pondasi awal persepsi yang terus menerus diinternalisasikan ke dalam benak massa.

Barangkali dalam konteks inilah, maka banyak filsuf besar seperti Plato, Aristoteles menolak demokrasi. Mereka menilai demokrasi hanyalah penamaan lain dari sebuah jalan buntu pembodohan karena dibangun dalam bayang-bayang “seolah-olah”. Bagi Plato, massa itu seperti orang-orang gua yang diikat, lalu di sekitarnya diberi api unggun yang mencipatan bayang-bayang dirinya. Selama bertahun-tahun orang-orang goa itu mulai percaya bahwa bayangan di dinding gua itu adalah dirinya. 

“Politik bekerja di malam hari”, karena dalam ruang-ruang dalam kelambu tersebut politik menciptakan lingkaran kecil elite politik yang saling ‘bergesek-gesekan’ dalam tawar-menawar. Sebentuk bangunan oligarki yang bergerak membangun kekuasaan dan melipatnya untuk diri sendiri. “Massa tak mungkin bisa melahirkan kejernihan”, inilah prinsip dasar oligarki. 

Dan kita, rakyat biasa ini, ketika ‘pagi’ datang dan politik naik ke atas panggung. Kita menyangka semua adalah realitas. Kita pun saling membenci, saling memaki, saling meluapkan euforia menyaksikan pertunjukan teater politik tersebut. ***