Puisi

10.8.19

Potret Pertanian dalam Kearifan Lokal “Sedulur Sikep”


PERJALANAN selama kurang lebih 5 jam dari kota Salatiga ke Desa Sambongrejo, Kabupaten Blora menjadi semacam rendezvous kembali dengan ‘akar’ kehidupan. Di desa ini, suara alam dengan segenap perikehidupannya seperti berbunyi nyaring. Suasana rimbun hijau kedamaian yang disodorkan seperti mengatar sebuah prosesi peluruhan batin yang sangat kuat dengan alam.

Memasuki Desa Sambongrejo, rumah warga berderet rapi dalam parade keteduhan serta simponi paduan warna yang demikian apik -biru, hijau, kuning dan merah. Semuai ini semacam mempertegas rasa keterikatan alam dengan segala keberagamannya. Hamparan tanaman jagung berbaris menyambut cericit suara burung seperti suara alam dari langit yang turun bernyanyi.

“Seger waras, inggih sami-sami seger waras ”, ucap pria baya berkharisma itu menyambut penulis di bangunan joglo Paguyuban Sedulur Sikep. Namanya Pramugi Prawiro Wijoyo atau lebih karib disapa Mbah Pram. Dia adalah ketua paguyuban keluarga Sedulur Sikep yang biasa juga dikenal sebagai wong Samin.

Ucapan “Seger waras, inggih sami-sami seger waras” memang adalah sebentuk salam khas dari paguyuban Sedulur Sikep yang juga menjadi ‘jantung’ hidup kaum Sedulur Sikep. “Seger Waras” memiliki makna mendoakan keberkahan bagi segala makhluk yang di sekelilingnya.

“Manusia itu harus peduli. Peduli pada alam dan peduli pada manusia di sekelilingnya”, ujar Mbah Pram melanjutkan.

Rasa penghormatan terhadap alam dan manusia inilah yang menjadikan kaum Sedulur Sikep menjadi sangat terbuka pada orang luar. Sikap toleransi yang menjulang dan sangat menghargai keberagaman perbedaan. Inilah juga yang menjadikan kaum Sedulur Sikep menjalani hidup dalam keteduhan yang damai dengan sekelilingnya.

Sejarah Paguyuban Sedulur Sikep yang dulu lebih dikenal dengan kaum Samin adalah sebuah kisah tentang paham saminisme yang diajarkan oleh Kaki Samin Soerosentika atau Raden Kohar, bangsawan yang menyatakan sikap perlawanan kepada penjajah Belanda secara unik khas. Dan Mbah Pram yang menjabat ketua paguyuban merupakan generasi ke empat dari Kaki Samin Soerosentika.

Pengikut ajaran saminisme ini lazim disebut wong Samin, berkembang di Sukalila (Kab Pati), Kelapa Duwur (Kab Blora), Blimbing (Kab Blora) maupun Bojonegoro. Dalam perkembangannya sebutan wong Samin sering sekali dikaitkan dengan sifat membangkang dan berkonotasi negatif sehingga sedulur samin ini mendeklarasikan diri dengan sebutan Sedulur Sikep. 

Saminisme: Ucap, Partikel dan Kelakuan

Dalam keteduhan rumah joglo paguyuban Sedulur Sikep, Mbah Pram bercerita bagaimana menyelaraskan hidup dengan alam dan manusia. Menurut Mbah Pram, ajaran Samin ada 3 pedoman atau pegangan yang perlu diperhatikan oleh penganutnya, salah satunya adalah ucap. Pengucap (tutur kata atau ucapan) harus dijaga, jangan sampai menyakiti orang lain. Jika tidak dijaga, rukun sebagai salah satu tujuan hidup dari penganut kepercayaan Samin, akan tidak terjadi. Pangucap ini seharusnya lebih dihati-hati oleh seorang pejabat tinggi. 

Di dalam ajaran Samin, lanjut Mbah Pram, jika ada yang salah ucap dan yang mengucapkan telah meminta maaf, yang tersakiti wajib memaafkan. “"Karena dalam tujuan hidup dari penganut kepercayaan Samin, rukun termasuk menjadi salah satu tujuannya," jelasnya.

Rukun termasuk urutan ketiga dalam tujuan yang ada dalam kehidupan para penganut kepercayaan Samin. Ada 5 tujuan yang urut-urutannya tidak boleh dibolak-balik. Lima tujuan hidup mereka adalah demen, becik, rukun, seger, waras.

"Demen tidak sekedar senang. Senang belum tentu demen, tapi bila demen sudah pasti senang," kata Mbah Pram mengurai satu per satu. 

Mbah Pram lalu memberi contoh orang dapat undian togel. "Dapat nomer (togel) kan senang, tapi tidak baik. Jadi demen adalah kesenangan-kesenangan yang yang baik."

Selanjutnya adalah becik. "Becik," kata Mbah Pram, "tak sekedar apik. Apik belum tentu becik, tapi becik sudah pasti apik."

Setelah melampaui becik, pengamal ajaran Samin akan menginjak pada rukun. "Rukun adalah sumber kehidupan. Mengapa sumber kehidupan? Perang adalah simbol ketidak-rukunan. Dengan perang, manusia bisa kehilangan kehidupannya. Kebersatuan akan membuat kehidupan berjalan," tutur Mbah Pram.

Setelah tercapai rukun, melangkah pada tujuan berikutnya, yakni seger (segar). Seger menurut Mbah Pram tak sekedar enak.

"Contoh saat siang di terik anda kehausan dan menemukan minuman yang bukan milik anda. Saat anda meminumnya, anda akan merasa enak, tapi tidak seger karena itu bukan barang hak anda," Mbah Pram memberi contoh.

Puncak dari tujuan penganut kepercayaan Samin adalah waras.

"Waras tak sekedar tidak sakit. Orang tidak sakit belum tentu 
waras, tapi kalau waras sudah pasti tidak sakit. Karenanya ada ujar-ujaran 'sing waras ngalah'."

Untuk meraih 5 tujuan hidup tersebut, penganut kepercayaan Samin memilik 5 larangan yang wajib dijalani mereka yang taat mengamalkan ajaran-ajaran Samin.

"Ora keno jrengki, srei, panasten, dahpen, dan kemeren," ujar Mbah Pram.

Lima larangan tersebut merupakan 5 tingkatan keburukan yang perlu dijauhi pengamal ajaran Samin. Jrengki adalah tingkat keburukan yang paling berat. Sementara yang paling ringan adalah kemeren.

"Jrengki adalah tindak tanduk yang jahil metakil. Srei adalah tindak tanduk yang nyrekali atau njegal. Sementara panasten adalah tindak tanduk yang suka marah dan membuat marah, atau membuat panas suasana yang bisa menyebabkan ketidakrukunan. Sedangkan dahpen adalah tindakan yang suka mencampuri urusan orang dengan tujuan yang tercela. Terakhir yang ringan adalah kemeren, yakni tindakan yang bersifat iri hati," penjelasan Mbah Pram.

Untuk dapat menjauhkan diri dari larangan-larangan, penganut kepercayaan Samin berpegangan pada 3 pedoman. "Yaitu pangucap, pertikel, dan kelakuan." (agama apapun kalo ini bener, tanpa tanding). Pangucap adalah ucapan yang perlu diperhatikan. Sementara pertikel adalah pikiran, dan kelakuan adalah tindakan. "Semua harus terjaga," pesan Mbah Pram. Itulah 5 tujuan, 5 larangan, dan 3 pedoman yang ada dalam ajaran dan amalan-amalan yang ada di kepercayaan Samin.

Pertanian dalam Kearifan Lokal 

Konsep nilai serta sikap kearifan lokal dalam perikehidupan paguyuban Sedulur Sikep mengejawantah pada seluruh jejak hidup sehari-hari kaum Samin ini. Begitupun dalam melakoni pekerjaan sebagai petani dan peternak yang menjadi pekerjaan sebagian besar masyarakat desa Sambongrejo. 

“Pekerjaan sedulur sikep ya jadi petani., baik tanaman pangan, hortikultura juga peternakan (kambing) serta  perikanan (ikan lele)”, ujar Mbah Pram.

Nilai-nilai pandangan hidup yang jauh tertanam dalam paguyuban Sedulur Sikep ini membuat hasil pertanian jadi bagus karena antara yang kasar dan halus telah berdamai damai. Hidup harmoni dengan alam seperti menrespon semua hal tersebut.  

“Padi bisa panen 3 kali, itu gak dijual tapi dimakan sendiri. Padi gak dijual. Yang dijual hanya kambing dan sapi”, kata Mbah Pram.

Sikap hidup yang terbuka menjadikan Sedulur Sikep paham betul niat baik pemerintah untuk memajukan hasil pertanian. maka kaum Samin dengan mudah menerima bantuan pemerintah seperti pengairan, bibit padi dan jagung serta pupuk. Padi bantuan ini berjenis Ciheran dan IR64.

Kaum Sedulur Sikep sangat menghargai bantuan tersebut, apalagi pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) juga sangat menghargai kearifan lokal dalam pertanian Sedulur Sikep.


Tidak mengherankan, regenerasi pertanian di Sedulur Sikep terus berkelanjutan sesuai dengan ajaran mereka untuk menghormati alam dan lingkungan sekitar. ***

(Estugraha dan Makmur Gazali)