Puisi

20.8.19

Setelah Konflik Selesai


“SETELAH perang atau konflik selesai, udara menguap dalam kabut berkabung. Yang menang menatap kosong. Yang kalah menjadi debu”, demikian tulis Albert Camus, penulis besar Prancis itu, di tengah reruntuhan akibat perang dunia ke 2. 

Memang suasana terasa ada yang ganjil dan aneh setelah keadaan menjadi hening. Gemuruh ledakan senjata berhenti. Hiruk-pikuk menguap dan kita sudah bisa sedikit menatap dengan lebih jernih. 

Ada sebuah kata bijak dari orang tua kita yang mencoba merangkum dampak dari sebuah peperangan atau perseteruan; menang jadi arang, kalah jadi abu. Dan sejarah diam-diam menyepakati itu semua. 

Sebuah konflik memang selalu meletakkan kita dalam dua kutub yang saling menegasi. Kami di sini dan kalian di sana. Tak ada ruang tengah yang kosong untuk sebuah kata ‘netral’. Lalu segalanya menjadi nampak hitam-putih. 

Di sinilah awal mula kebencian dipupuk dan diorganisir secara sistematis. Alat propaganda berisi hasutan, agitasi disiapkan dan disebar dengan garis komando vertikal. 

Prasangka serta kecurigaan menjadi adukan laris manis di sana dan pada garis demarkasi yang menjadi pembatas antara kita dan mereka dipenuhi bara api yang tak lagi mengindahkan akal sehat. 

Setiap konflik, peperangan dan perseteruan baik itu bersifat militer maupun politik senantiasa menyerukan agar akal sehat dan sikap kritis dimatikan. Ukurannya sederhana: ada massa dan bukan individu. 


Namun setelah semua itu selesai, keheningan menghujam kita. Perasaan kosong menghinggapi. Yang Menang bergembira dalam jiwa yang pedih sedang yang kalah menyimpan luka dalam bara dendam. Di sana teronggok arang dan di sini debu menyebar dalam kehancuran. (*)