Puisi

2.9.19

Dagelan: Ilmu Politik = Ilmu Dagang


POLITIK itu lucu dalam keseriusannya. Kalimat ini bukan saya yang katakan tapi ditulis dengan panjang lebar oleh Agus Dermawan, penulis, kritikus seni budaya kontemporer Indonesia. 

Dalam buku kumpulan esainya yang bertajuk “Sihir Rumah Ibu”, Agus dengan jeli menelisik begitu banyak kelucuan, bahkan kekonyolan dalam perilaku potilik kita di negeri ini. 

Dengan jitu dan gaya penulisan khas seorang kritikus budaya, Agus bisa membikin kita terpingkal atau minimal tersenyum kecut ketika menyerempet dan menyindir para politisi kita. Bahkan Jokowi dan Prabowo pun tak luput dari sindiran khas-nya. 

Dalam perspektif budaya, Agus menguliti semua lapis-lapis ruang politik yang kerap disembunyikan rapi oleh para pelaku politik kita. Menurutnya, politik Indonesia justru sangat lucu karena terlihat demikian serius di permukaan. 

Jujur, saya sedikit banyak menyepakati daya telisik yang menghujam itu. Dalam takaran tertentu, politik Indonesia memang penuh daya kejut yang membikin ilmu politik yang dipelototin sejak bangku kuliah oleh mahasiswa politik tak berlaku. Tesis-tesis besar politik entah terbang ke mana ketika kita memasuki zona praktisi ini. Saya kadang juga heran. Tapi seorang teman saya malah terbahak-bahak menyaksikan keheranan saya itu.

“Kedunguan kamu, karena masih menyangka politik itu sama sebangun dengan ilmu politik kuliahan”, katanya. 

Padahal, kata teman saya, politik Indonesia harus didekati dengan pendekatan ilmu dagang. Politik Indonesia adalah ilmu dagang par exellence. 

Di sana yang berlaku adalah hitung-hitungan untung rugi, investasi, kamu mendapat apa dengan melepas apa serta diperlengkapi dengan ‘kosmetika’ penggugah emosi agar terlihat segalanya untuk kebajikan bersama. 

“Makanya jangan heran kalau rata-rata politisi kita itu awalnya adalah seorang pedagang. Atau minimal sudah mengetahui seluk beluk ilmu dagang”, kata kawan saya.

“Lalu bagaimana dengan para sarjana dan mahasiswa politik”, tanya saya.

Wajah kawan saya memerah. “Kamu menyindir saya ya? Mentang-mentang saya ini  sarjana ilmu politik dan masih nganggur”, ketusnya. 

Nah, sekarang giliran saya yang terpingkal-pingkal. **