Puisi

9.9.19

Media Massa dalam Pusaran Politik dan Mafia


SEPERTI pada semua sektor bisnis lainnya, media massa pun tak lepas dari jerat arus besar persaingan untuk tetap mampu eksis dan bertumbuh. Apa boleh buat, realitas persaingan ‘berdarah-darah’ ini juga secara langsung berdampak pada model pemberitaan yang disajikan ke publik. 

Di tengah ‘banjir bandang’ lahirnya beribu-ribu media serta ‘tsunami’ informasi yang menandai era keterbukaan serta revolusi digital, berbagai cara dilakukan bahkan banyak media yang sudah dianggap punya nama besar terpaksa menggadaikan integritas jurnalisme-nya hanya untuk sekadar bisa bertahan hidup. 


Tak ada yang memungkiri bahwa, media massa juga adalah sebuah unit bisnis yang mengejar nilai profit. Namun yang membedakan dengan unit bisnis lain adalah dimensi sosial yang melekat pada media. Sebuah media (baca: berita) di dalam dirinya memuat nilai-nilai idealisme yang sangat kental. Bahkan dalam sejarah pergerakan Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, media massa bahkan murni lahir dalam tradisi perjuangan idealisme dan nasionalisme. 


Karena karekter media massa bukanlah murni bisnis semata, maka ada koridor dan etika ketat yang harus terpenuhi agar sebuah informasi bernilai berita (news). Dalam sebuah berita setidaknya memenuhi berbagai unsur agar dipercaya oleh publik sebagai sebuah kebenaran atau fakta. Di samping memenuhi persyaratan dasar seperti 5W1H, sebuah informasi dikatakan berita karena telah menyempurnakan apa yang kita kenal sebagai cover box side (keberimbangn berita), menyuguhkan fakta dan bukan asumsi, opini apalagi fitnah serta telah terkonfirmasi kepada sumber yang diberitakan. Nilai-nilai verikatif sangat dijunjung dalam sikap profesional seorang pewarta atau jurnalis. Dan bila itu tercederai maka ‘kutukan’ fatal bakal diperolehnya baik sebagai pribadi maupun institusi media tempat dia bekerja.


Namun zaman ini, seperti banyak dikatakan para pakar, memang banyak menyimpan paradox. Media massa pun, tak peduli betapa pomornya sudah meraksasa, banyak terjerembab dalam pusaran ‘zona merah’ persaingan dan terpaksa menggadaikan integritas jurnalis maupun medianya. 


Politik menjadikan media terbelah dalam keberpihakan yang ekstrim dalam saling dukung mendukung. Semua karena kejaran target iklan atau pesanan berita berbayar, walaupun media dan jurnalisnya sangat paham bahwa keberpihakan semacam itu sama sebangun dengan ‘melacurkan’ intelektualitas profesinya.


Namun yang paling mengkhawatirkan adalah pelacuran media yang didanai oleh para mafia. Dua dosa besar yang dilakukan media tersebut secara beruntun. Pertama, mereka telah melakukan penyesatan informasi dan pembohongan publik dan yang ke dua, mereka memberi makan keluarga dengan nafkah haram hasil dari bayaran mafia yang berasal dari jalan memanipulasi rakyat. Dan saat ini media massa kita berada pada tubir jurang kenistaan semacam itu. Kecuali yang tidak. **