Puisi

28.10.19

Jiwa-jiwa Mati


PENGARANG besar Rusia Nikolai Vasilevich Gogol pernah menulis sebuah karya sastra besar berjudul “Jiwa-jiwa Mati".

Roman sastra besar ini dengan lirih menceritakan bagaimana sebuah situasi mampu membuat sesorang perlahan-lahan ‘ambruk’ dan menjadi sosok pribadi yang kehilangan ‘rasa dan karsa’. Di sana hidup kemudian menjelma dalam lingkaran nir-nurani. Segalanya berjalan dalam rutinitas yang perlahan membusuk dan tanpa makna.

Nikolai Gogol, agaknya sangat paham bagaimana seorang yang dulu merupakan sosok jiwa yang peduli secara perlahan terjebak dalam situasi sulit yang membuat jiwa dan pribadi  integritasnya tergadaikan karena kemaruk kekuasaan.

Diterbitkan tahun 1842, novel ini seperti tetap hidup dan menyala dalam kehidupan kita saat ini. Begitulah sejatinya sebuah karya sastra besar. Dia akan terus menebarkan pesannya yang tak akan usang karena senantiasa dibangun dalam kedalaman intuisi kemanusiaan yang demikian menjulang.

Di Indonesia, sebuah negeri yang pasti tak pernah dikenal oleh Nikolai, novel Jiwa-jiwa Mati seperti menggambarkan layar kemanusiaan kita dalam keseharian, khusunya dalam jagat politik.

Dunia terlihat begitu bergerak dalam metamorfosa yang aneh. Seorang yang dahulu kita kenal sebagai sosok yang mencorong dalam pribadi yang kuat, memiliki integritas, punya kualitas kepemimpinan yang menohok dan menjadi idola rakyat, mendadak berubah setelah tampuk kekuasaan ada digenggamannya.

Jiwa dan nuraninya perlahan meredup dan bahkan berubah menjadi ‘monster’ yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Jiwa dan nuraninya menjadi ‘pahit’ dan akhirnya mati dalam kubangan kekuasaan.

Pengkhianatan adalah awal mula jiwa orang tersebut mulai tercerabut dari akar nuraninya. Sifat tak peduli dan hanya mementingkan genggaman kekuasaan menyempurnakannya. Kawan seiring dalam perjuangan perlahan disingkirkan. Kemaruk kekuasaan meletakkan dia dalam lingkaran megalomania bahwa kekuasaan sama sebangun dengan diri dan keluarganya.
 Namun ironisnya, dalam membangun citra, dia justru senantiasa yang berteriak-teriak merasa dizalimi. **