Puisi

26.10.19

Ken Arok Sindrome


KALAUPUN ada yang bisa kita percakapkan tentang politik di Indonesia saat ini, maka yang muncul di permukaan adalah sebuah nada muram dengan ritme tak beraturan bahkan cenderung centang perenang.

Politik Indonesia seperti dikutuk untuk selalu tampil dalam layar buram serta diselimuti intrik tempat para avonturir politik saling sikut, saling ‘menyimbahkah darah’ fitnah hanya untuk merasakan nikmatnya hak privelege yang mengiringi kekuasaan.

Terus terang saya termasuk orang yang tak percaya dengan berbagai macam nubuat (ramalan) yang kadang penuh diselipi dengan unsur klenik. Namun dalam takaran tertentu, apalagi dengan memakai terminologi ilmu pascamodern yakni ‘strukturalis organisme' yang diyakini kaum poststruktural yang menyimpulkan bahwa seluruh rangkaian titik kejadian (peristiwa) atau apa pun itu selalu terhubung dan saling kait mengait dengan kejadian lain.

Dengan demikian, kita tak bisa juga mengabaikan hipotesis bahwa setiap peristiwa di negeri ini adalah sebuah rangkaian akumulasi dari berbagai ‘jejak’ peristiwa lain baik di masa lalu mau pun kejadian di belahan dunia lain. Bahkan seorang pakar ekologi pernah menyebutkan bahwa ketika kita menginjak rumput hingga mati di suatu waktu akan berdampak terjadinya malapetaka besar di kemudian hari ditempat lain.

Tapi biarlah hal itu jadi perdebatan kaum pakar. Di sini saya hanya mendadak teringat apa yang sebagian budayawan mengistilahkan sebuah fenomena yang mereka sebut “Ken Arok Sindrome”.

Memang ada sebuah sejarah di negeri ini yang mencatat dengan sedikit pilu bagaimana sebuah perebutan kekuasaan kemudian beranak pinak dalam lingkaran setan dendam yang terus berkelanjutan.

"Kutukan Mpu Gandring ketika keris buatannya sendiri justru membunuhnya". Ken Arok dikisahkan meminta pertolongan Mpu Gandrng untuk membuatkan sebuah keris yang memiliki kekuatan ampuh. 


Ironisnya, setelah keris tersebut usai dibuat Mpu Gandring, Ken Arok justru membunuh sang pembuat dengan menusukkan keris tepat di jantung Mpu Gandring. Namun sebelum menghembuskan napas terakhir, sang Mpu menebar kutukan dengan mengatakan darah yang telah tertumpah ke bumi akan tumbuh menjadi dendam yang kelak bakal membawa malapetaka tak berkesudahan dalam seluruh tatanan keluarga bahkan nasib masa depan. Peristiwa pahit itu semacam inilah yang kemudian membawa sejarah kekejaman kekuasaan yang membuat kita melihat politik kekuasan demikian tak berperikemanusiaan.

Politik kemudian menjadi zona yang terlepas dari tali pusar kearifan serta filosofi dasarnya untuk mengelola rakyat demi kemaslahatan bersama.

‘Sindrom Ken Arok’ dan kutukan Mpu Gandring terus merebak bagai virus dari abad ke abad. Dan saat ini di dunia politik kontemporer Indonesia, kita masih mengidap dan terus terpapar virus tersebut. **