Puisi

23.10.19

Pemimpin di Era 'Distrust'


SEJAK revolusi teknologi informasi dan komunisasi melanda dunia saat ini, banjir bandang’ informasi bergulung dahsyat hingga ke ruang-ruang keluarga paling pribadi kita. Maka wajah dan perilaku politik pun berubah dengan sangat drastis.

Teknologi informasi digital dengan media sosial sebagai teknologi terapannya menjadikan ruang-ruang politik publik menjadi sangat dinamis. Kebebasan dalam memproduksi, menyimpan dan menyebarkan informasi dengan kecepatan yang luar biasa menjadikan sekat-sekat interaksi politik publik sangat terbuka dan nyaris tak mampu dikendalikan.

Dengan demikian daya kritis masyarakat menjadi semakin meningkat. Wajah politik masa kini pun mau-tak mau harus menyelaraskan dinamika zaman yang sedang melanda saat ini.

Dengan semakin terbuka dan bebasnya ruang informasi publik maka politik tidak lagi berada di ‘menara gading’ dan hanya menjadi percakapan (baca: bisik-bisik) para elit politik semata. Politik bukan saja menjadi arena terbuka namun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku keseharian masyarakat.

Lewat berbagai saluran interaksi publik yang bersifat digital seperti media sosial, masyarakat bisa dikatakan sangat kuat dalam mengambil peran aktif berpolitik. Pergeseran paradigma dan perilaku masyarakat ini sangat merubah pola dan corak politik lama yang cenderung elitis menjadi sangat demokratis.

Era digital informasi juga membawa politik masa kini menjadi semakin egaliter. Demokratisasi terjadi sangat cepat melalui saluran media sosial. Ini kemudian melahirkan pemimpin yang memang harus bisa diterima publik. Kedekatan pemimpin dengan rakyat menjadi keharusan di era ini. Politik kebijakan tidak bisa lagi dibuat diruang tertutup karena akan berakibat munculnya resistensi publik.

Politik masa kini juga sangat membutuhkan sinergi yang lebih aktif karena potensi perbedaan semakin terbuka. Dibutuhkan perilaku kepemimpinan yang terbuka, merangkul dan menghargai perbedaan sehingga mampu mentrasformasikan modal politik dan sosial yang ada dalam masyarakat.

Politik masa kini juga mengalami tantangan yang sangat berat karena kita mengalami apa yang para ahli menyebut sebagai era distrust (ketidakpercayaan). Era ini ditandai dengan lahirnya berbagai informasi yang menyesatkan baik hoaks maupun fake news. Ujaran kebencian menjadi bagian yang paling menonjol dari era distrust ini. Maka yang diperlukan adalah sikap keterbukaan, kejujuran, integritas pemimpin dan politisi serta kemampuan komunikasi politik yang tinggi dalam merekatkan masyarakat untuk mampu bersinergi.

Kemampuan melakukan komunikasi politik dan menggalang sinergisitas dalam potensi perbedaan yang besar di era ini harus dimiliki seorang pemimpin dalam politisi saat ini. Kemanpuan ini hanya bisa diraih bila pemimpin mampu mendengar denyut hati nurani rakyat dan kemudian mentrasformasikannya dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ini menjadikan pemimpin dan politisi harus merubah paradigma dan perilakunya dari “dilayani” menjadi “melayani”.

Politik masa kini mengaruskan pemimpin dan politisi mampu siaga 24 jam dalam melayani rakyat. Mampu mendengar dengan lebih jernih persoalan masyarakat. Mampu dengan sigap menyiapkan solusi untuk problema yang dialami masyarakat. Politik masa kini mengharuskan pemimpin mampu ‘mewakafkan’ dirinya untuk kemaslahatan masyarakat dan dengan sendirinya telah paripurna dan telah selesai dengan dirinya sendiri. ***