Puisi

30.11.19

Derrida dalam Belitan Sisyphus


KALAU kita pernah membaca buku karya filsuf besar Prancis Derrida dengan filsafat dekonstruksinnya, pasti kita mengalami ‘kejang-kejang’ perut karena mual. Pasalnya sederhana, karya ini bukan tulisan yang gampang dicerna dengan pencernaan timur negara berkembang yang masih saja bertengkar dengan alam modernitas, sedang karya Derrida adalah karya posmodern yang telah melampaui segala tetek benget modernitas.

Lagi pula, karya Derrida ini penuh dengan rujukan dan catatan kaki yang justru lebih panjang dan tebal dari karya aslinya.

Memang, dalam sistem filsafat yang dia bangun, Derrida tidak berhenti hanya pada penanda dan tertanda -meminjam istilah filsuf linguistik Prancis, Saussure- tetapi lebih jauh menukik pada sistem hermeunitika yang menafsirkan sebuah tanda dan penanda secara tak terbatas.

Namun, barangkali inti dari seluruh sistem filsafat dekonstruksi yang dibangun Derrida adalah sebuah upaya proklamasi perlawanan terhadap kemapanan sistem filsafat positivisme yang merujuk jauh ke Descartes hingga perlawanan terhadap filsafat Hegel dengan kekuatan dealektikanya.

Semua itu, bagi Derrida adalah sebuah ‘omong kosong besar' karena dengan sendirinya akan ‘membunuh’ dirinya sendiri. Sistem tersebut harus dibongkar (didekonstruksi) habis-habisan hingga ke akar-akarnya.

Namun ironisnya, Derrida tak memberi semacam jalan keluar dari kebuntuan tersebut. Ini sangat dipahami mengingat -menurutnya- apa yang sudah terbangun kembali harus didekonstruksi lagi. Terus menerus tak terhingga.

Apakah Derrida kemudian terjebak pada filsafat nihilisme? Dia secara tak langsung mengakui hal itu. Namun di sanalah letak momen yang menjadi daya pesona filsafat Derrida. Seperti ketika pengarang besar Prancis lain yakni Albert Camus mengisahkan sebuah absurditas dari kehidupan lewat mitologi Yunani, Sisyphus.

Dikisahkan, bagaimana Sisyphus dikutuk oleh Dewa Yunani untuk mendorong sebongkah batu besar ke atas bukit. Sesampai di puncak, Sisyphus harus rela menggelindingkan kembali batu tersebut ke lembah bukit dan kemudian kembali lagi mendorongnya ke atas. Ini dilakukan terus menerus tanpa jeda.

Dan kita membayangkan ada sebuah kerja sia-sia di sana. Tapi itulah secarik makna yang ingin disampaikan Albert Camus. Seperti Derrida, kerja yang dinilai absurd ini pun punya makna dalam hidup. **