Puisi

12.11.19

Sepeda


BEBERAPA waktu lalu, kita demikian karib dengan dengan kata-kata Presiden Jokowi ketika dia melakukan interaksi komunikasi dengan rakyat dan memberi beberapa pertanyaan. Diakhir interaksi tersebut, Jokowi dengan nada ringan -kadang diselingi cekikikan kecil- berkata: “ Kasih dia sepeda”.

Karena saya tak punya sekalipun kesempatan bertemu dan berinteraksi bersama Presiden Jokowi maka saya juga tak punya kesempatan mendapat hadiah sepeda.

Tapi beberapa waktu lalu seorang kawan menawarkan saya membeli sepeda bekas dengan harga yang cukup miring. Saya pun tertarik dan membelinya. Sekarang saya dengan sedikit nada bangga mengatakan “saya sudah punya sepeda”.

Namun persoalan lain kemudian muncul, saya harus belajar -persisnya kembali belajar- mengendarai alat transportasi roda dua ini, karena terakhir kali saya naik sepeda saat usia belasan tahun (kala itu duduk di bangku sekolah SMP).

Nah, dalam proses belajar di usia 50 tahun inilah, saya teringat seorang pengarang besar bernama Voltaire. Konon, dalam sebuah tulisan yang saya lupa-lupa ingat siapa penulisnya, pengarang besar Prancis ini ternyata baru belajar mengendarai sepeda diusia 78 tahun (kalau tak salah ingat). Jadi tolong jangan tertawakan saya yang baru kembali belajar bersepeda di usia 50 tahun.

Namun di sini, saya tak ingin membahas bagaimana prosesi saya belajar naik sepeda atau bagaimana Voltaire mendadak ingin belajar mengendarai sepeda diusia yang bisa dikatakan uzur. Saya juga tak ingin membahas mengapa Presiden Jokowi menjadikan sepeda sebagai sebuah hadiah dalam setiap interaksi komunikasinya kepada rakyat.

Saya hanya ingin sedikit melakukan ‘napak tilas’ bagaimana sebuah penemuan yang bernama sepeda mampu secara perlahan mengubah paradigma serta cara manusia berinteraksi dalam skala ruang dan mempercepat laju waktu.

Sejak sepeda ditemukan, ruang-ruang paradigma kita pun bergeser. Kalau sebelumnya alat transportasi manusia adalah hewan seperti kuda, kerbau dan lain-lain, maka sepeda jelas adalah sebuah penemuan teknologi. Manusia kemudian bergerak dalam spektrum yang lain. Sepeda menjadi sebuah daya gerak baru sama seperti ketika manusia prasejarah pertama kali menemukan api.

Sepeda kemudian adalah titik pijakan awal globalisasi di mana sekat-sekat ruang dan waktu mulai didekonstruksi. Sepeda menjadi simbol modernitas dan kemajuan suatu kaum dan dalam takaran tertentu sepeda menjadi penanda kebudayaan baru dalam hidup sebuah bangsa.

Inilah mungkin -sadar tak sadar- mengapa Presiden Jokowi gemar menghadiahkan seseorang dengan sepeda. Presiden Jokowi dalam kadar tertentu barangkali ingin memberi pesan bahwa kita sebagai bangsa harus “naik kelas” dari bangsa kelas ‘andong’ (alat transportasi yang ditarik oleh kuda) menjadi bangsa yang bersepeda. Bangsa yang tertinggal dan terpinggirkan dalam pergaulan global.

Jujur, ini hanya sekadar asumsi semata, namun memang sepeda bukan hanya merupakan alat transportasi an sich. Sepada adalah sebuah simbol, namun simbol yang saat ini terlihat paradoks. Di satu sisi, sepeda menyimbolkan kekuatan modernitas, tapi di sisi lain mencoba melawan efek negatif modernitas yang melahirkannya sendiri. Sepeda merupakan perlawanan terhadap jenis trasportasi yang membawa dampak buruk polusi yang menyebabkan perubahan ikllim yang demikian dahsyat. Sepeda adalah perlawanan terhadap alat transportasi yang berjenis bahan bakar fosil yang membikin bumi semakin tak nyaman dihuni. **