Puisi

25.12.19

Kekuasaan dan Seorang Ibu


“SYAHDAN, di sebuah hutan, seorang ibu dengan tubuh ringkih dan kumal bersua dengan seekor harimau yang telah beberapa hari tak menemukan mangsa untuk melepas rasa laparnya. Mereka bertatapan beberapa lama. Sorot mata sang harimau menyorot nanar, sementara mata sang ibu tak menyiratkan sedikit pun ketakutan. Ada kepasrahan yang demikian lepas di sana.

Sang harimau merasa heran, mengapa calon mangsanya ini tak sedikit pun menunjukkan gerak-gerik ketakutan seperti pada umumnya ketika manusia bertemu dengannya.

Sang harimau pun penasaran dan bertanya; mengapa ibu tidak takut, padahal saya ingin menjadikan ibu sebagai santapan untuk makan malam?

Sang ibu hanya tersenyum lalu berkata; lebih baik saya jadi santapan kamu daripada kembali ke kota dan menjadi korban sebuah rezim kekuasaan diktator, otoriter serta tirani”.

Amsal ini, kalau tidak salah ingat diceritakan filsuf China Lao Tse di hadapan murid-muridnya. “Sang Ibu lebih baik jadi santapan harimau dari pada harus kembali mengalami getirnya sebuah rezim yang demikian menindas”.

Sebuah kekuasaan yang pongah bertolak pinggang dan mengangkangi kemanusiaan memang demikian terlihat mengerikan. Karena di sana yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa, namun seluruh potensi kemanusiaan kita yang ada.

Kekuasaan semacam ini tidak hanya bertaring (seperti harimau) dan berpotensi membunuh seseorang, namun juga mampu mencerabut jiwa paling murni dari kemanusiaan kita.

Seekor harimau hanya mengikuti naluri hewani mereka dalam mempertahankan hidup dan kebutuhan biologisnya. Tak ada keserakahan dan kebencian di sana. Sedang kekuasaan yang dibangun dengan kebencian dan keserakahan seperti ketika kita meminum air asin, semakin diminum semakin terasa haus mengerogoti kita.

Kekuasaan yang tak pernah merasa ‘kenyang’ dan terus menyantap apa pun di hadapannya. Kekuasaan yang tak pernah berhenti ‘memakan’ apa yang kita yakini sebagai pembeda dengan mahkluk lain, yakni empati kemanusiaan, kepedulian dan rasa welas kasih. **