Puisi

12.1.20

1984: Orwell dan Kekuasaan


KEKUASAAN yang mengangkangi sifat murni kemanusian senantiasa ingin mengatur bagaimana mana orang berfikir, merasa dan berkata. Kekuasaan semacam ini senantiasa dibangun dengan landasan curiga. Segala yang dianggap berpotensi menyimpang dari kaidah-kaidah yang diindotrinasikan dicap sebagai pembangkangan. Jiwa kritis dibungkam dan manusia diturunkan derajatnya menjadi semacam ‘mesin’.

Suasana serupa inilah yang terbangun dari novel klasik karya sastrawan Inggris George Orwell, dengan judul ringkas “1984”. Novel bergenre satire ini memang mampu membetot urat saraf kita tentang bagaimana sebuah kekuasaan mampu merampok segala kemanusiaan kita yang paling dalam. Bagaimana kekuasaan berdiri bertolak pinggang dan mengawasi apa pun bahkan pikiran kita yang paling tersembunyi.

Di tulis dalam banyang-bayang kekuatan komunis di Uni Soviet (Rusia) dan rezim Nazi di Jerman, Orwell menulis dengan lirih (cenderung berbisik). Alur kisahnya mengalir pelan, suram dan dibaluri percakapan yang terpotong-potong.

Hampir seluruh kisah dalam novel ini terjalin dalam monolog-monolog pikiran yang berusaha mengais-ngais ingatan tentang masa lalu yang lenyap dalam sejarah yang dimanupulasi dengan sangat efisien dan tuntas.

Keseragaman adalah keniscayaan dalam kekuasaan yang digambarkan Orwell. Dunia berderik seakan ketakutan dengan suaranya sendiri. Hidup diliputi suara-suara monoton, kerdil dan tak bergairah.

Novel “1984” menjadi sebuah medan pertarungan yang dibanjiri gigil ketakutan. Dan kekuasaan di sana mengharu biru dalam sosok yang tak terlawankan. ***