Puisi

28.1.20

Gramsci


NAMA lengkapnya Antonio Gramsci. Dia hidup di zaman dentuman perang serta pekik heroisme dan romantisme ideologi perjuangan bergema hingga ke sudut-sudut dinding setiap bangsa -termasuk italia tempat Gramsci lahir dan menghabiskan umurnya.

Telah banyak yang tahu bagaimana pikiran-pikiran Gramsci mampu mengguncang jagat ideologi dunia. Dia seorang Marxis yang sangat kritis karena mampu membangun teorinya sendiri yang berbeda dengan Karl Marx. “Hegemoni” adalah kunci dari basis teori filsafat sejarah yang dibangun.

Berbeda dengan Karl Marx yang meletakkan faktor-faktor produksi dan ekonomi sebagai infrastruktur teratas dari teori materialisme sejarahnya, Gramsci justru menempatkan faktor budaya sebagai pucuk segala alur sejarah. Melalui kebudayaanlah, sejarah kelas pertentangan antara proletar dan borjuis berebut kekuasaan untuk menghegemoni.

Yang banyak dari kita tidak mengetahuinya adalah teori sejarah pertentangan kelas ini ditulis dalam penjara yang sempit dan kesehatan yang sangat buruk. Gramsci dalam sisi fisik memang benar-benar sangat rapuh. Tubuhnya ‘penuh’ dengan penyakit yang mematikan. Dia sosok yang terus berjuang melawan penyakitnya di penjara rezim fasis Italia hingga akhirnya harus menyerah kalah.

Terus terang, saya tak mampu membayangkan bagaimana seorang Gramsci mampu menuliskan teori besar di tengah kesakitan yang luar biasa itu. Diceritakan, dia kerap membentur-benturkan kepalanya dengan keras ke dinding penjara karena sakit kepala yang tak tertahankan. Pencernaannya yang demikian buruk menjadikan Gramsci tak mampu menelan makanan apa pun dan penyakit tulang punggung yang dideritanya sejak kecil menimbulkan rasa sakit yang demikian menggigit perih.

Barangkali, yang bisa kita sedikit paham di sana adalah bagaimana sebuah tekad, sebuah energi yang melecut dan tak mau menyerah tehadap segala macam rasa sakit. Sebuah hidup yang berpendar dalam gelora. Sebuah pikiran yang telah melampau segala macam rasa sakit -meminjam bara semangat penyair Chairil Anwar; Aku ingin hidup seribu tahun lagi, walau akhirnya harus takluk dengan kematian.

Dan di sisi inilah kita pantas mengagumi seorang Gramsci, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan segala teori serta keyakinan ideologi yang dipeluknya. Seorang figur yang mencorong justru karena dia mampu melahirkan karya besar di tengah penyakit yang ‘meng-hegemoni-nya. ***


Makassar, Januari 2020