Puisi

23.1.20

Hitler


TERUS TERANG saya kurang tahu bagaimana sejarah pertumbuhan psikologi seorang Adolf Hitler hingga akhirnya mampu menyeret dunia ke era paling kelam dalam sejarah dengan meledakkan ‘perang dunia II’.

Saya hanya pernah membaca sebuah buku bagus dari Erich Fromm dengan judul “Lari dari Kebebasan”. Di sana intelektual besar dari Sekolah Frankfurt ini dengan jeli menguliti tabiat paling tersembunyi dari psikologi masyarakat yang memungkinkan tumbuh suburnya potensi sifat totalitarianisme seseorang yang punya bakat pemimpin semacam Hitler.

Dalam buku monumental tersebut, Fromm mendedah habis sifat mendasar manusia yang memiliki kecenderungan menghindari kebebebasan. Sikap ketakukan akan kebebasan ini, menurut Fromm muncul bersamaan dengan lahirnya sebuah ideologi yang kapitalistik dengan meletakkan sifat kepemilikan sebagai tujuan dasar hidup.

Ketergantungan eksistensi manusia dinilai hanya bersumber dari sana (memiliki). Jati diri manusia hilang dan cahaya kemanusiaan yang sebenarnya senantiasa berproses ‘menjadi’ lenyap ditelan ketakukan kehilangan apa yang dimiliki.

“Aku ada karena aku memiliki”, demikian kredo yang diletakkan paling tinggi dalam sistem paradigma kapitalisme. Dengan demikian, kebebasan kemudian diartikan sebagai melepaskan semua apa yang menjadi eksistensi manusia yang ada. Kebebasan adalah proses ‘menjadi’ yang terus menerus dan tak henti. Di ruang ini, manusia tidak mengidentifikasi lagi dirinya dengan segala rupa yang telah dimilikinya.

Gerak transformasi dari ‘memiliki, ke ‘menjadi’ ini memang senantiasa ditandai dengan hilangnya pegangan hidup. Identitas manusia dibongkar habis-habisan dan seluruh eksistensi yang kita kira telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri kita dibuldozer habis.

Dalam ruang psikologi kolektif semacam itulah Hittler tampil dengan segala kharismatik yang dimilikinya. Di tengah keterpurukan ekonomi dunia serta perasaan terpinggirkan bangsa Jerman yang kalah di perang dunia pertama, meletakkan Hitler sebagai ‘peniup seruling’ -meminjam kisah seorang peniup seruling yang memukau anak-anak sehingga mengikutinya.

Nasionalisme ekstrim dibangkitkan sebagai semboyan rasa memiliki ras paling unggul. Gelora kebangsaan Arya menancap kokoh di puncak-puncak eksistensi masyarakat Jerman. Dan di sanalah sebuah episode runtuhnya kemanusiaan dimulai.

Tidak salah bila dikatakan, seorang Hitler hanyalah ‘alat picu’ meledaknya rasa memiliki dan rasa ketakukan akan kebebasan dari rakyat Jerman saat itu.

Bagaimana pun Hitler dalam sisi dealektika sosial sebenarnya juga lahir dan dipupuk dari ruang-ruang lingkungan yang memang telah lama tertanam tentang rasa identitas yang goyah, serta ketakukan tidak ‘memiliki’ apa pun yang menjadi identitas kapitalistik. Hitler adalah pelaku sekaligus korban dari sebuah paradigma filosofis yang menganggap ‘memiliki’ sama sebangun dengan identitas diri atau bangsa. **


Makassar, Januari 2020