Puisi

16.1.20

Tokoh-Tokoh Munafik


PADA akhirnya setiap kekuasaan adalah sebuah pertarungan melawan potensi keburukan dari diri sendiri. Pengarang besar Filipina, Fransisco Sionil Jose dalam karya klasiknya “Tokoh-Tokoh Munafik” menggambarkan hal ini dengan detail yang mencengangkan.

Digambarkan dengan nada satire, Jose mendedah sebuah kekuasaan dalam arti yang luas tentang manusia yang berusaha melawan kecenderungan syahwat di dalam diri. Karya ini dinilai “bagaikan foto rontgen yang memperlihatkan ekses-ekses penyakit revolusi dan masa peralihan Filipina seusai perang dunia ke 2. Bagaimana ulah para petualang politik serta ekonomi yang berkedok nasionalis dan patriot serta para cedekiawan semu mendominasi opini publik yang mengakibatkan tragedi bagi kaum idealis”.

Situasi serupa ini juga tergambar dalam cerpen-cerpen sastrawan Indonesia Idrus yang menceritakan bagaimana ‘kemaruk’ kekuasaan yang dibaluri kepentingan ekonomi melanda negeri kita diawal-awal kemerdekaan dulu dipenuhi oleh orang-orang munafik.

Saling sikut, saling fitnah dan saling menjatuhkan baik dengan kawan seiring maupun lawan politik menjadi bagian yang memilukan dalam suasana perebutan kekuasaan. Di sana tokoh-tokoh munafik di satu sisi tampil sebagai sosok bergelimpang kebaikan, namun di sisi lain menebar virus kedengkian dan kebencian. Udara sesak oleh atmosfer saling mengintip dan mengais-ngais kekurangan kawan dan lawannya kemudian menabur bisik-bisik untuk menjatuhkan. Segalanya bergerak dalam poros yang dipenuhi sikap saling curiga.

Memang, kekuasaan pada akhirnya bercerita tentang pertarungan melawan keserakahan diri sendiri. Sejarah banyak mencatat hal tersebut. Dan kita -pada umumnya- tak juga bisa melampaui naluri purba tersebut dan terus saja saling menggali lubang kubur untuk kemanusiaan kita yang paling murni. ***