Puisi

22.2.20

Rakyat dan Runtuhnya Kekuasaan


BANYAK sudah penelitian dari berbagai pakar serta opini dari kaum awam terkait bagaimana proses memilukan dari runtuhnya kerajaan besar, seperti kerajaan Majapahit. Sebuah kerajaan yang pernah memancangkan tiang kekuasaannya hingga jauh membentang dari Jawa, Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.

Mungkin, di masa puncak kejayaan Majapahit pada era Raja Hayam Wuruk dengan Patihnya Gajah Mada, tak ada sebiji pun pikiran yang menyangka kerajaan besar ini bakal runtuh, lenyap dan hanya tinggal sejarah. Namun memang sejarah punya alur sendiri dalam ruang yang mungkin tak terduga. Barangkali ‘tanda-tanda’ keruntuhan telah ada jauh sebelumnya namun terabaikan atau setidaknya dinilai hanya sebuah noktah yang tak perlu dikhawatirkan oleh petinggi-petinggi kerajaan saat itu.

Telah begitu banyak pakar telah menuliskan tentang variabel-variabel penyebab luluh lantaknya kerajaan Majapahit antara lain karena perang saudara, pemberontakan kerajaan-kerajaan kecil yang telah ditaklukkan, kelaparan yang menyebabkan adanya migrasi besar-besaran dari rakyat, korupsi dalam tubuh para pejabat kerajaan serta mulai tumbuh kembangnya ajaran Islam yang menawarkan rasa ketentraman baru.

Di sini, saya tak ingin ikut dalam ruang penafsiran sejarah yang menjadi kompetensi para sejarawan. Di sini saya hanya meletakkan spektrum imajiner dalam mencoba memberi ruang pengucapan yang lebih besar pada pembayangan tentang rakyat di masa mulai runtuhnya Majapahit sekaligus mengkritisi ilmu sejarah yang memang sangat diskriminatif dalam penuturannya.

Sejarah adalah milik penguasa. Kekuasaanlah yang menciptakan sejarah dengan segala ideologi yang diembannya. Kesimpulan semacam ini bukan saya yang menemukannya, tapi berasal dari pemikir kontemporer postmodern Michel Foucault. Dengan demikian sejarah hanya berisi sekumpulan cerita tentang elite dan sosok-sosok ‘penguasa’. Di sana rakyat diperlakukan sekadar sebagai catatan statistik semata.

Ketika bercerita tentang rakyat di suatu era tertentu, para sejarawan senantiasa mengaitkan dengan kekuasaan yang memayunginya. Di sana tak ada suara rakyat karena hanya dijadikan sebagai sebuah pemenuhan variabel pelengkap untuk membangun narasi kekuasaan. Padahal dalam era kekacauan dan zaman ‘edan’, rakyatlah yang paling terkena dampaknya. Rakyatlah yang berserakan mati di jalan-jalan, di pematang sawah, di desa-desa yang hangus dan hancur oleh peperangan dan kelaparan.

Demikian pula saat-saat jelang keruntuhan Majapahit, di mana rakyat saat itu? Saya membayangkan gelimpangan korban yang tak pernah tercatat sejarah. Hilang lenyap tak berjejak. Rakyat senantiasa adalah korban, tapi korban yang hanya bisa kita bayangkan dalam dunia imajiner, karena sejarah tak pernah tertarik pada mereka. Itu pun terjadi di era sebelum dan sesudah tumbangnya orde lama dan orde baru. (*)