Puisi

4.3.20

Politik dalam Lingkar ‘Homo Homini Lupus’


POLITIK menarik perhatian karena ketidakpastian yang senantiasa mengikutinya. Sejarah politik adalah sejarah tentang ketidakpastian yang dikelola menjadi ruang-ruang kemungkinan. Disetiap zaman, politik menyembul dalam beribu-ribu muka.

Politik menarik perhatian karena senantiasa membawa aroma harum kekuasaan dengan anak kandungnya berupa ‘privelege’. Barangkali dalam candu inilah mengapa politik lebih banyak dimaknai sebagai ajang perebutan kekuasaan dibanding sebagai wadah untuk mengelola kemaslahatan bersama.

Seiring pergeseran makna dalam menyikapi politik, kita menyaksikan bagaimana etika dalam politik perlahan runtuh dalam zona ini. Politik menjadi sangat ‘bugil’ dalam perilakunya. Sayatannya perih dalam mempertontonkan bagaimana kita saling sikut, saling fitnah, saling mengumbar kebohongan hanya untuk membangun dan menguasai kursi empuk kekuasaan.

Sebuah buku bagus dari pemikir Indonesia Fraz Magnis Suseno bertajuk “Etika Politik” pantas kita baca kembali di tengah centang perenang-nya model perpolitikan kita di negeri ini. Politik tanpa etika adalah rimba belantara dengan model “homo homini lupus”, manusia menjadi serigala bagi sesamanya -seperti Thomas Hobbes pernah katakan.

Di sana politik menjadi area paling bersimbah dengan intrik, syahwat serta kedengkian. Ruang-ruang kemanusiaan rontok dalam atmosfir saling menjatuhkan yang tak punya lagi nurani dan mata batin sasmita. Segalanya hanya berporos pada kekuasaan demi kekuasaan yang gemerlap dengan hak-hak istimewa yang dikandungnya.

Lalu di mana rakyat pada situasi seperti ini? Rakyat adalah ‘komoditas’ yang dijual untuk meraih simpatik. Rakyat adalah ‘kayu bakar’ yang dipakai untuk membakar gelora pseudo demokrasi. Rakyat hanyalah statistik yang dihitung-hitung secara cermat oleh para politisi untuk menggenapkan kursi kekuasaannya.

“Habis manis sepah dibuang”? Barangkali itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan posisi rakyat dalam arena perebutan kekuasaan. Kecuali yang tidak. **