Puisi

23.3.20

Wabah Sampar dan Kota Oran


PENYAKIT psikologis yang kerap menyergap kita kala situasi tak menentu adalah rasa panik. Dia terbit dari ruang gelap kecemasan dan menular demikian cepat. Ketidakpastian mekar dengan cepat. Dan di sana kita seperti meraba-raba dalam kegelapan informasi.

Sebuah novel bagus karya penulis besar Prancis Albert Camus berjudul “Sampar” dengan sangat liris menceritakan suasana seperti itu. Di sebuah kota bernama Oran, Camus memulai sihir katanya dengan menggambarkan situasi kota yang bergerak lamban dan terkurung dalam rutinitas warganya. Orang-orang ke kantor, pulang dan menghabiskan malam-malamnya yang tak bermakna di pub-pub, mall dan tempat keramaian.

Namun suasana kota Oran mendadak berubah. Wabah bernama “Sampar” seperti segerombolan pasukan pembunuh yang bersejingkat pelan di malam hari dan mulai menghabisi warga kota satu per satu. Kota Oran kemudian menjelma kuburan massal dengan jeritan pilu di setiap pojok kota.

Kepanikan menggaung di angkasa. Seperti mengaum dari langit dan membikin warga kehilangan pegangan dan kemampuan untuk berpikir sehat. Suasana ini demikian menghentak. Semacam situasi absurd yang tak bisa dicerna dalam logika kemanusian kita.

Tak ada yang bisa menjawab pasti mengapa kota Oran yang pada umumnya dihuni oleh orang-orang baik itu --atau merasa diri mereka orang baik, didera peristiwa memilukan ini. Panik dan cemas bertahta di udara dan warga hanya bisa meraba-raba kepiluan yang bernama kecemasan berada demikian dekat dengan kematian.

Namun di tengah situasi itu, masih saja ada beberapa orang yang terus mencoba bersikap tenang. Mencoba melakukan sesuatu semampu yang bisa dia lakukan. Apakah ini sejenis empati? Tokoh cerita itu menepisnya. Dia melakukannya karena memang itu yang bisa dilakukan. Bergerak, terus bergerak. Mencoba melawan absurditas suasana. (*)