Puisi

10.5.20

Kursi


SAYA kurang tahu pasti sejak kapan ‘kursi’ dalam interpretasi pemahaman politik diidenfitifikasi dengan kekuasaan. Yang pasti sejak kekuasaan bukan lagi hak prerogatif ‘darah kerturunan’ seperti di zaman monarki, semiotika ‘kursi’ sebagai rujukan tanda menjadi demikian dinamis.

Dalam terminologi asalnya, kursi menunjuk pada tempat duduk. Dalam ilmu fenomenologi Heidegger, kursi merupakan penghadiran makna tentang segala sesuatu yang terkait dengan potensi masa lalu-masa depan dan kekinian yang hadir dalam diri seseorang. Kursi adalah sebuah sejarah sekaligus harapan yang teraktualisasi di kekinian.

Namun sejak, Foucault meletakkan basis hermeneutika semiologi baru dalam membaca tanda dengan menemukan bahwa setiap tanda senantiasa di dasari oleh geneokologi kekuasaan, maka kursi pun menjadi semakin menarik untuk diberi ruang pengucapan baru.

Kursi pun menjadi sebuah tanda kekuasaan. Sebuah rujukan tanda di mana atribut-atribut primordial kekuasaan itu diangkut di sana baik itu berupa privelege (hak-hak istimewa), kewibawaan, kemasyuran, kekayaan, penghormatan dan kata yang menjelma mantra dimilikinya.

Kursi pun diperebutkan. Diletakkan dalam dimensi sakral untuk dipuja sebagai tanda yang demikian diagungkan. Orang-orang pun bisa melakukan apa saja demi meraih kursi itu. Apa pun bisa dihalalkan. Apa pun bisa diterabas.

Demi kursi, orang saling menjatuhkan, saling fitnah, saling mengbohongi. Kursi demikian ‘manis’ bertengger di sana. Menunggu siapa yang mampu membujuk atau dengan paksa bisa meraihnya. Kursi pun rontok hanya sebagai tanda jatuhnya eksistensial kemanusiaan kita. Sebuah kekosongan kesadaran manusiawi seperti apa yang dikatakan Sartre. (*)