Puisi

26.5.20

Semiotika Pagi


PAGI senantiasa memiliki aroma khas yang ‘membius’. Udara segar meruap, cericit burung dan lirih angin adalah bingkai pagi yang kerap membikin kita terpaku dalam rasa yang melambung.

Barangkali karena itulah pagi selalu menerbitkan harapan. Semacam pertautan paling intens dan purba antara sisi kemanusiaan kita yang murni dengan alam yang tanpa pamrih memberi. Pagi adalah letupan cinta yang membentuk embun bening. Pelan menguap dan meninggalkan sebentuk senyum yang ikhlas.

Banyak dari kita -manusia modern ini- tak mampu lagi menikmati pesona pagi. Kehidupan dan rutinitas merampasnya dalam baris-baris rasa cemas. Kehidupan telah membikin kita manusia pencemas abadi yang demikian terpojok dalam ketakutan akan masa depan.

Maka pagi pun selalu terlewati dengan percuma. Kita tak pernah lagi menyimak bagaimana prosesi embun yang terlihat demikian tulus menyerahkan dirinya untuk terbitnya matahari. Kita tak lagi mampu merasakan desir angin jatuh di pucuk daun dalam gerimis pagi yang bening.

Dunia modern telah ‘menyulap’ pagi hanya menjadi serangkaian tahapan waktu yang bergerak linier. Kita menjadi menusia setengah ‘mesin’ di sana. Dunia kemudian menjadi demikian membosankan. Dan kita hadir hanya untuk mencemaskan apa pun di hadapan kita. (*)