Puisi

5.5.20

Tembok Pagar


SEJARAH tentang tembok pagar barangkali dimulai dengan munculnya kesadaran manusia tentang rasa ketentraman, keamanan dan mulai terbitnya bibit sebuah peradaban.

Diawali dengan membangun tembok kota yang juga berfungsi sebagai benteng pertahanan di zaman dahulu, tembok pagar meletakkan eksistensinya tentang kami di sini dan mereka di sana. Tentang kami yang beradab dan mereka yang barbar di luar sana.

Tembok pagar kemudian secara perlahan mengalami penafsiran-penafsiran baru dari peradaban modernitas tentang individualisme, hak milik serta ruang ekspresi pemujaan pada segala sesuatu yang berkadar materi.

Pagar lantas menjadi pengucapan paling moderen yang diekspresikan manusia tentang yang kami miliki (privat) dan apa yang menjadi ruang publik.

Saya tak tahu sejak kapan, pagar kemudian meletakkan dirinya sebagai ruang di mana manusia mulai menjaga jarak antara privat dan ruang publik. Yang pasti, pagar (tembok) kemudian meletakkan kita menjadi manusia-manusia yang senantiasa merasa tidak aman, merasa terancam dan merasa perlu —dengan segenap upaya— melindungi hak milik pribadi dari ancaman luar.

Maka tembok pagar rumah pun dibuat makin tinggi menjulang. Mencoba merahasiakan segala aktifitas kita di dalam. Mengurung diri dalam garis-batas apa yang bisa diketahui dan apa yang dirahasiakan. Di sana kita menjadi ‘manusia-manusia goa’ yang tak nyenyak dalam hidup. Gelisah dalam setiap gerak dan cemas dalam memikirkan segala harta yang kita miliki. (**)