Puisi

2.6.20

Wabah, Politik dan Empati Kemanusiaan


WABAH virus corona benar-benar menghentak jagat global. Dalam kurun sejarah, barangkali baru kali ini dunia dilanda turbulensi kepanikan serempak yang luar biasa.

Sejarah wabah memang telah beberapa kali melanda dunia dari masa ke masa, namun baru kali ini “kaki penyebarannya” demikian cepat serta demikian sulit dikendalikan dan membawa dampak yang demikian mengharu-biru. Baik itu ekonomi, sosial dan politik.


Dalam sejarah panjang keberadaan bumi, serangan wabah yang mematikan telah beberapa kali menyerang manusia dengan korban yang dwmikian banyak. Yang membedakannya dengan saat ini adalah dimensi politik ekonomi yang mengiringinya.


Guncangan virus corona yang kerap disebut covid-19 ini bukan saja punya daya tular yang demikian cepat dan mematikan, namun juga memporak-porandakan ekonomi global.


Di sisi lain, wabah ini juga dibungkus dengan dentuman politisasi yang demikian vulgar. Bencana kematian kemudian menjadi sajian yang dipamerkan hanya lewat statistik.


Setiap hari kita saksikan -dengan kecamuk perasaan- bagaimana pejabat pemerintah mengumumkan dengan nada suara datar daftar orang-orang yang terinfeksi virus, yang dirawat, yang sembuh dan yang meninggal. Di sana kita melihat deretan angka-angka mengalir yang semakin hari membuat sense of humanity kita perlahan tumpul. Bebal dan perlahan meletakkannya dalam dimensi dunia lain.


Barangkali, saat seperti inilah, kemanusiaan kita diuji dengan keras. Empati dan perikemanusiaan kita digodok untuk tetap berdiri dalam sikap tidak memandang manusia hanya semacam angka-angka statistik. Tidak menjadikan bencana kemanusian ini sebagai ‘lahan’ politisasi untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Di saat seperti inilah kita berada di ambang pintu menjadi manusia atau menjadi binatang yang bisa berpikir. (**)


Tulisan ini pernah dimuat di smartcitymakassar.com