Puisi

20.7.20

Ada Kambing dalam Politik


SETIAP praktek politik yang berangkat dari mengejar kekuasaan hanya untuk kekuasaan pasti ‘membawa kambing’ dalam setiap geraknya. Fenomena ini sudah cukup lazim. Kambing dalam politik adalah sebuah etape yang kerap menjadi rujukan ketika kekuasaan (baca: penguasa) menunjuk hidung orang lain sebagai biang kerok kesalahan yang sebenarnya dia perbuat.

Biasanya kambing ini disebut ‘kambing hitam’. Entah mengapa kambing hitam menjadi semacam ikon untuk senantiasa dipersalahkan. Yang pasti, setiap penguasa yang tidak percaya diri, tidak becus dalam mengelola kekuasaan yang dimandatkan padanya senantiasa menyiapkan ‘kambing hitam’ dalam kantong safarinya.

Sejarah politik kekuasaan memang selalu ditandai dengan berbagai ketidaksempurnaan. Kebijakan penguasa, bagaimana pun niat baik yang menyelimutinya, kerap terpeleset dalam kecerobohan. Ini juga sangat lazim. Namun yang membedakan antara kekuasan ber-hati nurani dengan kekuasaan untuk diri sendiri adalah potensi pengkambing-hitaman yang menggelayutinya.

Ketika kekuasaan hanya mengenal cara kambing-hitam dalam menyelesaikan masalah yang memojokkan dirinya, di sana kekuasaan menjadi pengecut dan nyaris kehilangan kharismatiknya. Kekuasaan semacam ini hanya menunggu waktu untuk dipecundangi. Kekuasaan yang hanya sampai ke tenggerokan ketika meneriakkan ‘untuk kemaslahatan rakyat’. Kekuasan yang bakal meninggalkan rasa jijik ketika mengingatnya. (*)