Puisi

27.7.20

Optimalisasi Peran Humas dengan 4 Paradigma Baru Kehumasan


ERA baru komunikasi publik mengalami fase perubahan yang sangat dahsyat. Ruang-ruang komunikasi publik menjadi sangat cair, tanpa sekat serta cenderung lebih bersifat interaktif.

Sejak revolusi digital yang dibarengi dengan revolusi teknologi informasi internet di akhir abad 20, rentetan penemuan terkait cara baru berkomunikasi mengalir deras. Salah satu yang paling anyar adalah penemuan alat bantu komunikasi publik yang akrab disebut Media Sosial (medsos) publik beserta segala turunannya mulai dari facebook, twitter, instagram dan sebagainya maupun media sosial chatting seperti whatsApp, Telegram, line, wechat dan lain-lain.

Semakin ke depan, gerak penemuan tersebut semakin terkonvergensi dalam satu aplikasi yang semakin memudahkan pengguna melakukan interaksi komunikasi. Dampak dari perubahan cara berkomunikasi ini memang cukup signifikan. Di era sebelummnya, model komunikasi publik (massa) sangat bertumpu pada media massa arus utama (mainstream) serta bergerak satu arah (top down). Dengan demikian, pusat-pusat membentukan opini publik sangat dihegemoni oleh media massa arus utama seperti surat kabar, majalah dan media elektronik.

Hal tersebut di atas tidak lagi berlaku di era teknologi digital dalam revolusi teknologi informasi seperti saat ini. Dengan karakter baru yang dimilikinya, era teknologi informasi saat ini sangatlah cair, interaktif dan yang paling utama adalah lenyapnya ‘pusat-pusat’ pengendalian informasi. Saat ini. melalui aplikasi di smartphone, setiap orang mampu memproduksi, menyimpan, mendistribusikan sendiri informasi yang dibuatnya atau dibuat oleh orang lain. Hal ini sangat berdampak besar karena dari penelitian (survei tahun 2018) dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APPJII) menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah tembus 171 Juta jiwa dan terus mengalami peningkatan tajam.

Perubahan dahsyat model komunikasi publik era baru ini dengan sendirinya membawa dampak, baik dampak positif maupun negatif.

Dengan mengacu ke fenomena tersebut, maka setiap institusi baik perusahaan swasta maupun pemerintah mau tak-mau harus melakukan transformasi besar-besaran untuk mengatisipasi fenomena tersebut. Lembaga kehumasan yang menjadi wadah (institusi) yang memiliki fungsi penghubung komunikasi antara institusi dengan khalayak publik, yang bertugas menkaga dan membangun citra institusi serta proaktif membina hubungan dengan publik harus pertama-tama melakukan transformasi tersebut.

Pemahaman terkait karakter zaman yang melahirkan fenomena cara berkomunikasi publik yang baru harus menjadi rujukan setiap personil lembaga kehumasan. Karakter inovasi yang sangat kental di era teknologi informasi harus pula dimiliki oleh personil lembaga kehumasan.

Insan yang berkecimpung di bidang kehumasan dituntut berubah secara cepat, aktif, dengan hasil maksimal. Sehingga, dapat memenuhi harapan masyarakat yang selaku menekankan pelayanan prima. 

Di era yang dinamakan disrupsi alias perubahan di berbagai sektor akibat datangnya era revolusi industri 4.0 saat ini membuat masyarakat menuntut kinerja pemerintahan yang terbaik dan ekstracepat, tetap terukur dan kredibel. Namun, tingginya ekspektasi masyarakat belum dapat dipenuhi oleh banyak instansi pemerintahan. 

Untuk itu, humas dan seluruh personel pemerintahan harus mengubah paradigmanya dan memiliki spirit melayani sebagai acuan dalam setiap langkah kerjanya. Perlu semangat melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Humas adalah speed, berubah secara cepat. ini harus menjadi modal bagi humas dan semua ASN untuk maju. Humas harus aktif. Selain itu harus punya agenda setting, punya perencanaan apa yang ingin disampaikan, tidak seadanya.

Setidaknya dalam teori yang terkait era paradigma baru komunikasi publik menuju tata kelola institusi yang baik dijelaskan ada 4 paradigma institutional public relations yang harus diubah agar menjadi humas yang kekinian, namun tetap dipercaya oleh publik.

  1. Pelaksanaan tugas dan fungsinya dari taktis menjadi strategis.
  2. Humas harus menjadi menjadi pemain kunci dalam jalannya pemerintahan, bukan hanya pemain pendukung yang kurang berperan aktif.
  3. Humas harus memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi serta jejaring yang lebih luas, lingkup nasional bahkan internasional.
  4. penguatan positioning alias citra positif organisasi dan pribadinya. 

Perubahan paradigma tersebut diharapkan menjadi dasar bagi para pranata humas, agar tidak sekadar menjadi pemadam kebakaran atau sapu pembersih untuk setiap masalah yang berpotensi merusak citra organisasi. Humas harus mampu menyusun berbagai program dan strategi komunikasi terbaik bagi instansinya masing-masing. 

Perubahan ini membutuhkan berbagai kompetensi teknis yang harus dimiliki oleh para pranata humas. Di antaranya kemampuan untuk mengomunikasikan berbagai pesan organisasi kepada para stakeholder organisasi melalui program-program komunikasi yang efektif dan efisien. 

Berbagai program dan strategi untuk mendiseminasikan berbagai informasi kepada publik dapat berlangsung sangkil (mengena) dan mangkus (manjur) apabila para pranata humas mampu menerjemahkan pesan kunci dari para pejabat publik, termasuk para Kepala Daerah. Kompetensi untuk memahami dan merancang ulang pesan kunci pimpinan instansi dan para kepala daerah harus dimiliki oleh setiap humas pemerintah, serta terus diasah agar semakin mumpuni. 

Setelah memahami maksud dari pernyataan para pejabat publik, humas harus sanggup mencari benang merah antara setiap pernyataan pemimpin dengan visi misinya.

Selanjutnya, humas wajib membuat program komunikasi yang paling tepat sasaran dan tepat medianya. Bila ketiga tips tersebut dijalankan dengan baik, niscaya humas pemerintah akan menjadi sosok komunikator profesional yang disegani dan siap menghadapi setiap tantangan yang muncul seiring perkembangan zaman. 

Kemampuan (public relations) atau humas yang profesional adalah mampu dengan cepat melakukan adaptasi dalam mengarungi arus perubahan zaman yang selalu bergerak cepat. **