Puisi

28.7.20

Pramoedya


NAMANYA Pramoedya Ananta Toer. Dia adalah salah satu sosok penulis Indonesia yang paling kritis sekaligus paling membuat kekuasaan demikian kerepotan menghadapinya. Penjara, pembuangan adalah jalan hidup yang dipilihnya. Sebuah keyakinan telah dipegang teguh dalam penderitaan hidup berkepanjangan. Sebuah ideologi yang meletup tak habis-habisnya demi perjuangan membela hak kaum miskin dan tertindas.

Setiap kekuasaan yang berdiri gemetar di hadapan kata-kata adalah kekuasaan yang pasti dibangun dengan teror dan horor. Kekuasaan semacam ini senantiasa memperlakukan orang-orang yang kritis sebagai musuh yang harus diberangus.

Dalam kata-kata yang diucapkan dengan landasan kejujuran bisa jadi adalah sebentuk lain dari gema yang mewakili suara hati nurani rakyat. Inilah mengapa kekuasaan yang memunggungi hak rakyat menjadi demikian ketakutan dengan cermin dirinya sendiri.

Pramoedya menulis. Amunisinya hanya kata-kata. Justru karena itulah dia terlihat seperti sebuah ironi. Di zaman yang memulai gemerlapan oleh kerakusan dan keserakahan. Di era yang menjadikan kekuasaan dan kekayaan menjadi medan perebutan yang ganas, Pramoedya berdiri sendiri. Mungkin tidak tegap bahkan terlihat sempoyongan. Namun dia tetap berdiri. Tetap lantang bersuara. Tetap menggemakan suara kepedihan rakyat kecil.

Namanya Pramoedya Ananta Toer. Dia mungkin lebih dihargai di luar negeri dibanding di negerinya sendiri yang hingga mati diperjuangkannya. Tapi apakah memang dia butuh semacam penghargaan? Entalah. Namun Pramoedya terus saja menulis. Mengabarkan suara jerit hati nurani rakyat kecil. Mungkin itu sudah cukup baginya. (*)