Puisi

14.8.20

Kematian


SETIDAKNYA ada dua profesi yang sering menjadikan kematian sebagai mata air gagasan dan tema pembicaraannya. Mereka adalah ulama (penceramah agama) dan penyair.

Pada ulama, kematian adalah setrifetal dari kehidupan. “Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan mati”, demikian sebuat ayat membunyikan sebuah kepastian. Dalam konteks ini, para ulama menjadi penyeru dan pengingat akan sebuah prosesi kehidupan. Kematian adalah ‘harga mati’ dan karenanya hidup harus diisi dengan nilai-nilai kebajikan yang telah diserukan dalam kitab suci.

Bagi ulama, kematian adalah sebuah tahapan menuju yang abadi. Sebuah proses kembali kepada sang pencipta. Di sana kematian juga adalah peringatan (alarm) bahwa hidup hanya sebuah kesementaraan semata. Dunia dan segala pernak-perniknya adalah ujian, screening dan cobaan apakah kita lulus. Punishment and reward ada di sana. Bila kita lulus maka kelanjutannya adalah surga dan bila gagal kita akan terjebak dalam pusaran neraka.

Sedangkan bagi penyair, kematian adalah sebuah lubang hitam (black hole) yang bakal menyedot kita dalam kemisterian yang tak bertepi. Bagi kebanyakan penyair, momen kematian adalah keterpesonaan puitik yang menggetarkan. Sebuah selaput sangat tipis yang memisahkan kita dengan kehidupan.

“Kematian demikian dekat”, kata penyair sufi Abdul Hadi MW. Memang dalam menyikapi kematian, ambiguitas penyair demikian mencolok. Kematian adalah ketika eksistensial seseorang tercerabut. Kematian adalah hilang, lenyap, pupus. Di sinilah banyak penyair ‘memberontaki’ takdir kematian yang pasti itu. Penyair Chairil Anwan bersungut “aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Namun di sisi lain, bagi seorang penyair, kematian juga adalah momen ketundukan yang membawa sebuah jiwa merunduk lirih. Sebuah kesementaraan yang meletakkan penyair dalam ruang-ruang tragedi yang kadang mereka rayakan dengan penerimaan bahwa prosesi ini adalah pengucapan liris dari hidup.

Kematian menjadi “ketak-relaan menerima segala tiba, karena kita ini "setipis itu atas debu”. Sebuah peristiwa yang pelan “berderai-derai sampai jauh”, kata Chairil Anwar. Dan kita akan menemuinya baik dengan cara meradang atau sebaliknya dengan kepasrahaan yang tragik. (**)