Puisi

18.9.20

Politisi


TERUS TERANG saya senantiasa menaruh kekaguman yang mewah pada seorang politisi. Bagi saya, sosok politisi adalah ‘pemangku kemaslahatan’ rakyat. Pada jari telunjuknya seluruh potensi kemungkinan rakyat menjadi lebih sejahterah berkerumun. Politisi adalah sebuah kerja mewakafkan diri untuk kemajuan masyarakat.


Lalu mengapa banyak yang mencibir pada profesi mulia ini? Mungkin sejarah memang terlalu kejam dalam menilai sosok politisi. Mungkin sejarah demikian gemar mencatat kekurangan profesi ini. Atau memang dalam rentang waktu yang membentang, sosok politisi semakin jauh dari rel idealisme yang pernah melahirkannya. Entahlah.

Memang saat ini kita bisa banyak bercerita tentang liuk liku kiprah politisi dalam sudut pandang beragam. Sebuah jagat yang kemudian meletakkannya sebagai public figure menjadikan sosok politisi seperti cermin yang demikian terbuka. Politisi kemudian tak ubahnya seperti selebriti. Di atas ‘panggung’ politisi lebih banyak memakai ‘topeng’ untuk meraih simpati publik. Jagat politik lalu menjelma drama yang lebih banyak menyembunyikan kebenaran.

Dengan demikian, cerita tentang politik bertumbuh jauh menyimpang dari harapan ibu kandung (baca: rakyat) yang melahirkannya. Di sana, yang tersuguhkan hanya perilaku yang ganjil. Kemaruk kekuasaan, keserakahan, saling sikut menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan pribadi atau kelompok adalah cerita keseharian dari aktivitas politisi. Ironisnya, semuanya dibungkus “demi kemaslahatan rakyat”.

Namun bagaimanapun keberadaan politisi sangat kita butuhkan. Kelahirannya adalah keniscayaan ketika interaksi manusia dipertemukan dalam dunia yang disebut ruang publik. Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mampu melahirkan sosok politisi yang berkualitas dan memang berpihak pada kemaslahatan rakyat. ***