Puisi

9.2.20

Mikhail Bakunin


SOSOKNYA santun dan sangat ramah. Fisiknya seperti menyimpan kelembutan yang dalam. Namun pikirannya bagai gemuruh lava gunung berapi yang membikin banyak nyali ciut dibuatnya.

Namanya Mikhail Bakunin, sosok seorang revolusioner tulen hingga ke tulang sumsum dari Rusia. Sosok inilah yang dinilai memproklamirkan aliran Anarkisme dalam gerakan revolusi.

Namun saat ini banyak yang menyalahpahami teori gerakan anarkis yang dia gaungkan di era abad ke 19 lalu. Anarkisme, bagi Bakuinin adalah antitesis dari sebuah otoritarian kelembagaan kekuasaan yang bercorak elitis, baik itu negara, kerajaan, tsar atau apa pun wujudnya.

Gerakan revolusioner Bakunin memang banyak dicap sebagai sebuah utopia. Bahkan perseteruannya yang demikian mendalam dengan Karl Marx bersumber dari model pikiran yang sangat terbeda, walau sama-sama menentang penindasan kapitalisme borjuis.

Tafsir baru soal anarkisme yang dinilai sama sebangun dengan chaos dan tanpa aturan, barangkali tak pernah terbetik dalam benak Bakunin, karena perjuangannya yang murni adalah penentangan terhadap kelembagan yang menindas kaum jelata.

Di suatu ketika, dia bahkan meramalkan bahwa teori sejarah revolusi pertentangan kelas yang disodorkan Karl Marx akhirnya akan mengulang kembali terbentuknya kekuasaan elitisme oligarkis. Dan ramalan itu memang terwujud ketika revolusi bolshevik di Rusia menghasilkan negara diktatorial komunis yang bahkan sangat elitis.

Barangkali, Bakunin dengan anarkisme-nya memang sekadar sosialisme utopia. Semacam figur Robin hood yang mengalami nasib sial dan terus gagal. Namun setidaknya, sejarah mencatat kehadirannya dengan segala sikap empati serta keberpihakannya pada penindasan kaum marjinal terus mampu menjadi inspirasi. Dia sosok yang gagal dalam memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya, namun dia berhasil menorehkan seberkas cahaya keberpihakan yang tidak pupus oleh zaman. (*)