Puisi

30.9.20

Takdir Puisi


PADA
akhirnya setiap puisi memiliki dirinya sendiri. Seperti sebuah perahu di lautan tak bertepi, dia akan berlayar memenuhi takdirnya sendiri. Kehadiran sebuah puisi, dibaca atau pun tidak, terkenal atau hanya sekadar  terpojok dalam sunyi, adalah sebuah peristiwa. Sebuah momentum kehadiran yang bakal menghadapi prosesi tumbuh dalam dunia yang dibentuknya sendiri. Dia bisa hadir terus menerus dan berkembang dalam benak seseorang atau sebaliknya lenyap hilang dalam semesta kata-kata yang terus memborbardir keseharian kita.

Puisi adalah kehidupan itu sendiri. Dikehendaki lahirnya atau hanya sebagai coretan ‘haram’ yang tak selesai, puisi telah mempermaklumkan keberadaannya. Banyak orang mengira, puisi hanyalah teks bacaan yang akan musnah sekali orang selesai membacanya. Banyak orang yang ketika membaca sebuah puisi, hanya berusaha menelisik kandungan makna di balik teks yang tertera. Semua itu sah dan wajar saja. Sebuah puisi, diperlakukan apa saja tetaplah sebuah puisi. Kegagalannya tidak terletak pada bagaimana orang menafsirkan keberadaannya.

Kita tak akan pernah tahu, pada muara mana sebuah puisi menemukan lautnya. Dia akan terus mengalir dan membelah diri dalam berbagai interpretasi hermeneutika pembacanya (kalaupun ada yang membaca). Di sana demikian banyak pecahan tanda –semiotik- yang dikandungnya, walau dalam takdirnya dia tetap sendiri.

Banyak yang mengira, puisi tidak terlepas dari penyair yang membidani kelahirannya. Namun, dalam sifat asalinya, pusi adalah sebuah kehadiran yang melampaui sang penyair. Puisi memiliki takdirnya sendiri. Sebuah kehidupan yang demikian cair dan terus meleleh memecahkan diri dalam setiap perjuampaan dengan seorang pembaca. Puisi adalah kehidupan itu sendiri. Sebuah misteri yang demikian licin dalam ‘tangkap dan lepas, meminjam bait puisi Amir Hamzah. Sebuah puisi adalah kehidupan yang menubuatkan takdirnya sendiri. Kadang gemerlap di atas panggung pembacaan sajak yang gegap gempita, kadang di pojok sunyi yang terlupakan. (**)